Cerpen - Seorang Hujan

 AKU ingin hidup dalam tubuh seseorang, dalam kenyataan orang lain. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku tahu itu sebuah dusta yang berusaha aku buat untuk diriku sendiri. Dusta murahan yang membuat manusia menjadi bahan olok-olok di dapur rumahnya sendiri. Suara panci, piring, gelas dan sendok yang menjadi gaduh.


Tapi aku terus memikirkannya. Berhari-hari. Aku merasa keinginan itu seharusnya bisa aku lakukan. Mustahil aku tak bisa melakukannya. Aku membayangkan perpindahan seperti itu sesuatu yang seharusnya bisa dimiliki siapapun. Aku membayangkan tubuh itu tidak beda jauh saat aku menyalakan lampu listrik. Cahaya tiba-tiba hidup di dalam tabung kaca. Ketika listrik aku matikan, cahaya itu juga ikut mati. Ia tidak berjalan keluar dari tabung kaca itu. Tapi mati. Padam. Darah bisa keluar dari tubuhku, keringat juga bisa menetes. Aku memikirkannya hingga musim hujan datang. Dan semua tentang pikiran itu berubah, saat hujan pertama betul-betul datang, turun di halaman rumah.

Aku menatapnya dari balik jendela kaca. Tiba-tiba hujan itu membuka pintu rumahku. Ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di depan pintu. Tubuhnya seperti gumpalan awan berwarna hitam legam. Ada suara halus yang terdengar dari dalam gumpalan awan hitam itu, seperti suara pesawat yang berbunyi konstan. Sejak itu aku mulai bersahabat dengannya. Aku memanggilnya hujan di pagi hari.

***

PAGI itu aku sedang berjalan bergandengan bersama hujan. Udara dingin. Angin membuat tirai dari air hujan, tipis, seperti ciuman di leher menjelang bangun tidur di pagi hari.

"Sudah lama aku menunggumu di lembah itu," kataku. Hujan tak menjawab. Ia menggenggam tanganku seperti merasakan detak waktu yang bergerak. "Manusia tidak menarik karena ia bisa menghitung waktu," katanya. Aku memandangnya. Wajahnya bersih. Rambutnya tersisir rapi. Rapi, seperti rajutan yang terbuat dari air.

"Aku tahu waktu tidak pernah bisa menyentuh dirimu," kataku. "Kamu tidak pernah tua. Kamu selalu baru. Kamu tidak mengenal tubuh yang tumbuh menjadi dewasa, lalu tua, sakit dan mati. Kamu tidak pernah merasakan sakit, terluka, dan kesepian." Hujan lalu membelah dirinya dengan belahan-belahan yang berulang. Cahaya biru yang tipis memancar pada setiap terjadinya pertemuan antarbelahan itu.

"Ini hari yang istimewa untukmu juga untukku sendiri," katanya. "Aku datang 5 mil untuk menemuimu pagi ini, berlari menuruni lembah, menerjang hutan bambu dan mematahkan sebuah jembatan di sebuah sungai yang airnya deras dan berbatu-batu."

"Di musim bunga tahun lalu, ketika kupu-kupu hampir setiap pagi membuat tarian di lembah itu, dan cahaya matahari seperti sedang menciptakan tubuhku dari daun-daun kacang di lembah itu, aku sangat berharap kamu datang di lembah itu. Tapi kemudian aku sadar, kamu tidak mungkin menemuiku. Aku juga tidak mungkin menemuimu. Sudah kodratnya begitu. Kita saling berpapasan, tapi tidak pernah saling mengenali."

"Kenapa kamu terkunci dalam bahasa seperti itu, seakan-akan kamu percaya ada yang tidak bisa saling menyentuh, ada yang tak bisa saling mengenal di dunia ini?" tanyanya. "Kita tidak pernah bisa saling bertemu karena kamu punya kepercayaan seperti itu. Kepercayaan yang sia-sia."

Ketika kami menuruni batu-batu berkapur, hujan merembes ke dalam batu-batu berkapur itu, lalu mengucur kembali lewat batu-batu kerikil. Aku takjub melihat hujan yang bisa merembes. Aku takjub melihat hujan yang membuar arsitektur dari air. Dia yang telah membuat ruang menari. Dia yang telah memberi bentuk mati menjadi bentuk yang bergerak. Dia yang menghidupkan dan mengajak bermain kembali dengan memori-memori lama. Dia yang merajut kembali semua peristiwa dan lalu membiarkan kembali semua rajutan itu merembes ke dalam tanah sebagai air, melewati akar-akar rumput dan senyap. Dia yang memiliki keindahan yang tak tergantikan dan tak siapapun bisa memilikinya.

Aku tahu ia memang tak tersentuh. Aku tidak bisa menetes dan merembes. Aku terpisahkan oleh bahasa dan tubuhku sendiri yang telah menutup duniaku.

Hujan menatapku.

Matanya seperti ratusan jarum yang saling merajut.

"Aku ingin memberi warna pada dirimu," kataku.

"Sebentar lagi akan ada pelangi yang turun di lembah ini, membuat lingkaran tipis, seperti garis-garis tangan pada telapak bayi. Semua kupu-kupu menganggap pelangi itu adalah ibu mereka."

Aku memeluk bahu hujan. Air menetes di telapak tanganku. Terus menetes. Suara hujan yang jatuh di atas sebuah batu, menciptakan suara ketukan yang padat dan konstan. Hujan yang deras turun di kepalaku membuat mataku seperti dipenuhi oleh tangisan yang datang dari luar diriku. Mataku seperti berada di dunia yang lain, dunia dari tangisan yang datang dari luar. Aku tahu mataku tidak menangis. Tidak ada air mata. Aku yakin memang tidak ada air mata. Mataku meyakinkan diriku berkali-kali, ini bukan hujan, ini tangisan yang datang dari luar. Mataku seperti telah meninggalkan tubuhku di lembah itu, karena keyakinannya bahwa ini bukan hujan, melainkan tangisan dari luar. Tubuhku tidak bodoh, dan tidak perlu membuktikan lagi bahwa ini hujan.

Hujan lalu menepuk bahuku. Air mengucur deras di kepalaku yang botak. "Hei, tolong, jangan main-main seperti ini. Jangan mempermainkan kepalaku yang botak dengan hujanmu. Jangan memain-mainkan jantung dan ginjalku. Kamu tidak bisa merembes ke dalam pikiranku walau kepalaku botak. Aduh jangan kurang ajar, dong. Nanti aku lempar kamu dengan kepalaku."

Aku mengeluarkan payung dari tas punggungku. Aku juga mengeluarkan jas hujan dan memakainya. Suara hujan membuat bunyi ketukan lain di atas atap payungku. Bunyi ketukannya membuatku yakin tidak akan ada bahaya yang datang dari atas.

***

HUJAN turun semakin deras. Kini aku duduk di atas sebuah batu lengkap dengan payung dan jas hujanku. Daun-daun kacang di lembah itu terus bergetar tertimpa air hujan. Getarannya membuat jejak-jejak yang aneh lewat gelombang-gelombang yang bergerak halus ke arah jempol kakiku. Aku merasa seperti bisa keluar dari tubuhku sendiri.

Tubuhku tiba-tiba menjadi sibuk, berbenah membereskan banyak hal. Aku mulai tak percaya aku sedang duduk, mengenakan jas hujan dan memegang payung. Aku mulai tak yakin dengan mata dan telingaku. Tapi tubuhku ternyata tidak bisa keluar. Ada yang macet di dalam, mampet. Tubuhku tidak memiliki pintu untuk keluar. Aku berusaha menjebolnya. Hujan turun semakin deras, merembes lewat pori-pori tubuhku. Tubuhku mulai banjir. Aku merasakan seperti ada tanggul yang akan jebol dalam tubuhku karena banjir yang besar itu. Tubuhku tiba-tiba meledak, seperti rajutan karet yang meledak.

***

AKU membersihkan serpihan-serpihan daging di bantal tidurku. Sebagian serpihan itu menempel di kelambu. Sinar matahari menerobos lewat kaca jendela kamar tidurku. Hujan sudah menungguku di teras depan. Kami berjanji untuk pergi berjalan ke sebuah candi hari ini.

Lalu aku keluar dengan payung.

"Kenapa kamu memakai payung?'' tanyanya

"Kenapa aku tidak boleh memakai payung?'' aku balik bertanya.

"Karena aku merasa kamu seperti membawa peti mati di atas kepalamu," katanya.

"Peti mati apa?'' tanyaku.

"Peti mati untukku," jawabnya.

"Peti mati untuk hujan?" tanyaku.

"Hujan di dalam peti mati," tegasnya.

"Ini hanya payung," jawabku. "Kamu tidak mungkin bisa terkubur di dalam payung."

"Ah, duniamu tetap terkunci dalam bahasa," kilahnya.

"Tidak. Bahasa hanya kata-kata, lalu kalimat, lalu titik, atau koma."

"Tidak. Kalian telah mengunci dunia kalian di dalam bahasa."

"Siapa yang kamu maksud dengan kalian?"

Hujan lalu merebut payungku, seperti mematahkan kaki kursi yang tumbuh di kepalaku.

Lalu hujan bergelayut di telapak tanganku. Lalu menetes dan membuat kalung di leherku. Lalu bergelayut di daun-daun bambu dan membuat percikan di lantai terasku. Lalu kami tertidur dalam pelukan yang penuh oleh warna hijau. Lalu daun-daun kacang di lembah itu, yang membuat malam dari suara-suara serangga, saling bercerita tentang sekuntum bunga yang belum pernah tumbuh sebelumnya di lembah itu. (*)

Wah, Ada “Search Engine” Rakitan Indonesia

Sebuah mesin pencari super, nowGoogle, hasil kreasi anak negeri hadir di tengah riuhnya perlombaan dari mesin-mesin pencari besar termasuk Google, Yahoo, dan Bing. Bertajuk ‘multiple search engine’, mesin buatan Rolly Trisno itu bisa memberikan banyak hasil dari satu pencarian.

“Prinsipnya seperti membuat ‘kandang’ untuk beberapa mesin pencari di dalam satu mesin pencari besar,” Rolli menjelaskan dalam satu percakapan elektronik.

Alhasil, dari satu mesin pencari saja, informasi dan data yang didapat menjadi lebih kaya.

Bayangkan saja, mesin pencari itu menjadi ‘kandang’ untuk lebih dari 100 situs, dari mesin pencari seperti Google atau Bing, situs berbagi video seperti YouTube, sampai situs penyedia informasi lapangan kerja asal Amerika Serikat, CareerBuilder.

Pencarian pun bisa menjadi semakin tepat karena beberapa mesin pencari dan laman dikombinasikan dengan 14 mode pencarian.

Uniknya keempatbelas mode pencarian itu lebih spesifik, misalnya B2B marketplace, downloads, jobs, lyrics, eBook, dan song.

“Jadi kita bisa menghemat banyak waktu dan pencarian menjadi efektif,” ulas pria yang mengaku belajar internet secara otodidak itu.

Pria kelahiran 33 tahun lalu itu menambahkan, sistem seperti itu membuat mesin digital buatannya sangat cocok untuk para bloger atau pemilik web.

“Lebih mudah mengecek website kita di semua situs yang ada,” katanya.

Hebatnya laman itu dipadati sekitar 4.000 sampai 7.000 pengunjung per hari. “Seribu sampai 2.000 pengunjung dari luar negeri,” paparnya bangga.

Akan tetapi, mesin yang baru mulai online sejak Februari lalu itu bukan tanpa masalah.

Berisiko

Namun ada persoalan dengan embel-embel Google pada nowGoogle, tapi menurut Rolli nama nowGoogle dipakainya karena banyak pencarian yang menggunakan kata kunci ‘nowgoogle’.

“Ketika dicek domainnya masih tersedia, makanya langsung mendaftar,” papar sarjana Tehnik Industri itu.

Ia yakin tidak ada masalah dengan mesinnya itu.

Tetapi Muhammad Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure, lembaga Pengawas Keamanan Internet Indonesia, berkata lain.

“Nama ‘nowGoogle’ berisiko. Karena pengucapan dan isi yang mirip dengan Google,” tegasnya Kepada ANTARA News.

Muhammad menyarankan Rolli mengganti nama mesin pencarinya karena jika itu tetap dipakai maka akan dianggap melanggar hukum arbitrasi internasional.

Tips Shortcut Blackberry

Banyaknya pengguna Blackberry telah membuat perangkat ini semakin sering dieksplore. Beberapa tombol yang ada dalam keypad qwerty Blackberry juga diprediksi menyimpan banyak rahasia jika dipadupadankan.

Shortcut navigasi email di Blackberry
N : untuk email selanjutnya
P : untuk email sebelumnya
U : untuk email yang belum dibaca

Shortcut untuk navigasi di browser
T : konten paling atas
B : konten paling bawah
[space] : untuk scroll ke bawah
[shift/Aa sebelah kiri] dan [space] untuk scroll ke atas
[alt] : menampilkan menu pilihan di browser

Akses informasi perangkat, baik PIN, IMEI dan sebagainya
tekan tombol [alt] + [Aa] + [H] bersamaan
melalui menus status juga bisa, meski prosesnya lebih lama

Restart Blackberry (jika mengalami hang)
[alt] + [Aa kanan] + [del]

Untuk mem-follow akun twitter dari Blackberry anda juga bisa dilakukan secara singkat. Namun syaratnya, anda harus mengaktifkan aplikasi Twitter untuk Blackberry (UberTwitter) terlebih dahulu.

1. Pilih compose email
2. tuliskan alamat akun twitter yang dituju, lengkap dengan tanda @di depan.
contoh: @sarie_okz
3. tekan menu option maka akan tampil menu Follow di bawah menu Get Timeline
4. Tekan follow, sesaat anda sudah akan terkoneksi dengan twitter yang dituju.
5. menu Get Timeline juga bisa ditekan untuk menampilkan timeline dalam akun twitter yang dimaksud secara otomatis